MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY
LEARNING
O L E H : SALMON. A.
LA’A DKK
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
PATTIMURA AMBON, 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi dalam proses kehidupan. Majunya suatu bangsa dipengaruhi oleh mutu
pendidikan dari bangsa itu sendiri karena pendidikan yang tinggi dapat mencetak
Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud disini bukan
bersifat nonformal melainkan bersifat formal, meliputi proses belajar mengajar
yang melibatkan guru dan siswa. Peningkatan kualitas pendidikan dicerminkan
oleh prestasi belajar siswa. Sedangkan keberhasilan atau prestasi belajar siswa
dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang bagus. Karena kualitas pendidikan
yang bagus akan membawa siswa untuk meningkatkan prestasi belajar yang lebih
baik.
Pada saat
proses belajar–mengajar berlangsung di kelas, akan terjadi hubungan timbal
balik antara guru dan siswa yang beraneka ragam, dan itu akan mengakibatkan
terbatasnya waktu guru untuk mengontrol bagaimana pengaruh tingkah lakunya
terhadap motivasi belajar siswa. Selama pelajaran berlangsung guru sulit
menentukan tingkah laku mana yang berpengaruh positif terhadap motivasi belajar
siswa, misalnya gaya mengajar mana yang memberi kesan positif pada diri siswa
selama ini, strategi mana yang dapat membantu kejelasan konsep selama ini,
metode dan model pembelajaran mana yang tepat untuk dipakai dalam
menyajikan suatu pembelajaran sehingga dapat membantu mengaktifkan siswa dalam
belajar.
Hal tersebut
memperkuat anggapan bahwa guru dituntut untuk lebih kreatif dalam proses
belajar – mengajar, sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan pada
diri siswa yang pada akhirnya meningkatkan motivasi belajar siswa.
Salah satu alternatif untuk memperbaiki kondisi
pembelajaran yang dipaparkan di atas adalah model pembelajaran yang tepat bagi
siswa serta dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Hudojo (Purmiasa,
2002: 104) mengatakan bahwa model pembelajaran akan menentukan terjadinya
proses belajar mengajar yang selanjutnya menentukan hasil belajar. Berhasil
tidaknya proses belajar mengajar tergantung pada pendekatan, metode, serta
teknik mengajar yang dilakukan oleh guru. Untuk itu, guru diharapkan selektif
dalam menentukan dan menggunakan model pembelajaran. Dalam proses belajar
mengajar guru harus menguasai prinsip–prinsip belajar mengajar serta mampu
menerapkan dalam proses belajar mengajar. Prinsip – prinsip belajar
mengajar dalam hal ini adalah model pembelajaran yang tepat untuk suatu
materi pelajaran tertentu.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat dari makalah ini adalah
model pembelajaran discovery learning.
C. Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat dari makalah ini adalah sebagai masukan dan pertimbangan
kepada mahasiswa sebagai calon guru untuk menggunakan model pembelajaran
discovery learning.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pembelajaran Discovery Learning
Penemuan (discovery) merupakan suatu
model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme.
Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting
terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa ssecara aktif dalam
proses pembelajaran.
Menurut Wilcox (Slavin, 1977), dalam
pembelajaran dengan penemuan siswa didorong untuk belajar sebagian besar
melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan
melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk
diri mereka sendiri.
Pengertian discovery learning
menurut Jerome Bruner adalah metode belajar yang mendorong siswa untuk
mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum praktis
contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari
piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif didalam belajar
di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery
learning, yaitu dimana murid mengorganisasikan bahan yang dipelajari dengan
suatu bentuk akhir.
Menurut Bell (1978) belajar penemuan
adalah belajar yang terjadi sebagia hasil dari siswa memanipulasi, membuat
struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ie menemukan
informasi baru. Dalam belajar penemuan, siswa dapat membuat perkiraan
(conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran dengan
menggunakan prose induktif atau proses dedukatif, melakukan observasi dan
membuat ekstrapolasi.
Pembelajaran penemuan merupakan
salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan konstruktivis
modern. Pada pembelajaran penemuan, siswa didorong untuk terutama belajar
sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip.
Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan
memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri
mereka sendiri.
Pembelajaran Discovery learning
adalah model pembelajaran yang mengatur sedemikian rupa sehingga anak
memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan,
sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Dalam pembelajaran discovery
learning, mulai dari strategi sampai dengan jalan dan hasil penemuan ditentukan
oleh siswa sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Maier (Winddiharto:2004)
yang menyatakan bahwa, apa yang ditemukan, jalan, atau proses semata – mata
ditemukan oleh siswa sendiri.
Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran discovery learning adalah suatu model
untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri,
menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam
ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga
bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang
dihadapi. Kebiasaan ini akan di transfer dalam kehidupan bermasyarakat.
B.
Tujuan
Pembelajaran Discovery Learning
Bell (1978) mengemukakan beberapa
tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a. Dalam penemuan
siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran
meningkat ketika penemuan digunakan.
b. Melalui
pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi
konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate)
informasi tambahan yang diberikan
c. Siswa juga
belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya
jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d. Pembelajaran
dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif,
saling membagi informasi, serta mendengar dan mneggunakan ide-ide orang lain.
e. Terdapat
beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep
dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f. Keterampilan
yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih
mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar
yang baru.
C.
Strategi-strategi
dalam Pembelajaran Discovery Learning
Dalam pembelajaran dengan penemuan
dapat digunakan beberapa strategi, strategi-strategi yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
a. Strategi Induktif
Strategi ini terdiri dari dua
bagian, yakni bagian data atau contoh khusus dan bagian generalisasi
(kesimpulan). Data atau contoh khusus tidak dapat digunakan sebagai bukti,
hanya merupakan jalan menuju kesimpulan. Mengambil kesimpulan (penemuan) dengan
menggunakan strategi induktif ini selalu mengandung resiko, apakah kesimpulan
itu benar ataukah tidak. Karenanya kesimpulan yang ditemukan dengan strategi
induktif sebaiknya selalu mengguankan perkataan “barangkali” atau “mungkin”.
b. Strategi deduktif
Dalam matematika metode deduktif
memegang peranan penting dalam hal pembuktian. Karena matematika berisi
argumentasi deduktif yang saling berkaitan, maka metode deduktif memegang
peranan penting dalam pengajaran matematika. Dari konsep matematika yang
bersifat umum yang sudah diketahui siswa sebelumnya, siswa dapat diarahkan
untuk menemukan konsep-konsep lain yang belum ia ketahui sebelumnya.
Sebagai contoh, untuk menentukan rumus luas lingkaran, siswa dapat diarahkan
untuk membagi kertas berbentuk lingkaran menjadi n buah sector yang sama besar,
kemudian menyusunnya sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti persegi panjang
dan rumus keliling lingkaran yang sudah diketahui sebelumnya, siswa akan dapat
menemukan bahwa luas lingkaran adalah .
D.
Peranan Guru
dalam Pembelajaran Discovery Learning
Dahar (1989) mengemukakan beberapa
peranan guru dalam pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a. Merencanakan
pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah
yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b. Menyajikan
materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk
memecahkan masalah.
Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
c. Guru juga
harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan simbolik.
d. Bila siswa
memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya
berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan
mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi
ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan. Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
e. Menilai
hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis
besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi
dengan menemukan generalisai-generalisasi itu.
E.
Kelemahan
dan Kelebihan Model Pembelajaran Discovery Learning
· Kelebihan
discovery learning
1.
Dapat
meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah (problem solving)
2.
Dapat
meningkatkan motivasi
3.
Mendorong
keterlibatan keaktifan siswa
4.
Siswa aktif
dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan
untuk menemukan hasil akhir.
5.
Menimbulakan
rasa puas bagi siswa. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan
lagi sehingga minat belajarnya meningkat
6.
Siswa akan
dapat mentransfer pengetahuannya keberbagai konteks.
7.
Melatih
siswa belajar mandiri
·
Kekurangan
discovery learning
1.
Guru merasa
gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalah fahaman antara guru dengan siswa
2.
Menyita
waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai
pemberi
informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.
3.
Menyita
pekerjaan guru.
4.
Tidak semua
siswa mampu melakukan penemuan
5.
Tidak
berlaku untuk semua topik .
F. Aplikasi Pembelajaran Discovery Learning di Kelas
1. Tahap
Persiapan dalam Aplikasi Model Discovery Learning
Seorang guru bidang studi, dalam
mengaplikasikan metode discovery learning di kelas harus melakukan
beberapa persiapan. Berikut ini tahap perencanaan menurut Bruner, yaitu:
beberapa persiapan. Berikut ini tahap perencanaan menurut Bruner, yaitu:
a)
Menentukan
tujuan pembelajaran.
b)
Melakukan
identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan
sebagainya).
c)
Memilih
materi pelajaran.
d)
Menentukan
topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh
generalisasi).
e)
Mengembangkan
bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya
untuk dipelajari siswa.
untuk dipelajari siswa.
f)
Mengatur
topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke
abstrak, atau
dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
g)
Melakukan
penilaian proses dan hasil belajar siswa (Suciati & Prasetya Irawan dalam
Budiningsih,
( 2005:50).
( 2005:50).
2. Prosedur Aplikasi Discovery Learning
Adapun
menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan model Discovery Learning di kelas
tahapan atau prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar
secara umum adalah sebagai berikut:
a)
Stimulation
(stimulasi/pemberian rangsangan).
Pertama-tama
pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya,
kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan
untuk menyelidiki sendiri (Taba dalam Affan, 1990:198).
Tahap ini
Guru bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik membaca
atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. Stimulation pada tahap ini
berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan
dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan
stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang
mendorong eksplorasi.
b)
Problem statement
(pernyataan/ identifikasi masalah).
Setelah
dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang
relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan
dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah
2004:244).
c)
Data collection
(pengumpulan data).
Ketika
eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk
menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian
anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi
yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara
sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya (Djamarah, 2002:22).
d)
Data processing
(pengolahan data).
Menurut Syah
(2004:244) data processing merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang
telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya,
lalu ditafsirkan.
Data
processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi
sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa
akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian
yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e)
Verification
(pentahkikan/pembuktian).
Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif
jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).
f)
Generalization (menarik
kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalitation/
menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan
prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Atau tahap dimana berdasarkan
hasil verifikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi
tertentu (Djamarah, 2002:22). Akhirnya dirumuskannya dengan kata-kata
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi (Junimar Affan, 1990:198).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran
discovery learning (penemuan) merupakan salah satu model pembelajaran
yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme. Pada pembelajaran penemuan,
siswa didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai
pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan
prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri.
Pembelajaran
penemuan memliki beberapa kelebihan. Pembelajaran penemuan membangkitkan
keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk terus bekerja hingga menemukan
jawaban. Siswa melalui pembelajaran penemuan mempunyai kesempatan untuk
berlatih menyelesaikan soal, mempertajam berpikir kritis secara mandiri, karena
mereka harus menganalisa dan memanipulasi informasi.
Pembelajaran
penemuan juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya dapat menghasilkan
kesalahan dan membuang-buang waktu, dan tidak semua siswa dapat melakukan
penemuan.
B. Saran
Karena model
pembelajaran discovery learning hanya dapat dipakai untuk materi materi
tertentu, maka seorang guru atau seorang calon guru disarankan agar mampu
memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat diterapkan
dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya melibatkan
beberapa siswa saja, karena model pembelajaran discovery diperlukan keaktifan seluruh
siswa.
Selain itu
alat – alat bantu mengajar (audio visual, dll) haruslah diusahakan oleh
guru atau calon guru yang hendak menerapkan metode ini, tujuannya untuk
memberikan siswa pengalaman langsung.
DAFTAR
PUSTAKA
Ardi-lamadi.blogspot.com/2010/02/peningkatan-hasil-belajar-matematika
Elvira-yunita-utami.Penerapan
Metode Dicsovery Learning pada Pembelajaran Matematika dalam Usaha
Peningkatan Motivasi Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP Neg 2
Pengasih Kabupatan.Kulon Progo
http-3A-2Findex-of-ppt.com-2FMetode-2Pembelajaran-2FDiscovery-2FLearning-2F
Ratumanan,
T. G. 2004. Belajar dan Pembelajaran edisi kedua.Unesa University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar